[Esai Kuratorial] Everything is Rites

Pameran Tunggal Franziska Fenner
“Everything is Rites
Museum Affandi
Yogyakarta
2008

Everything is Rites

Bukan kebetulan bila tema ini pameran ini adalah “Everything is Rites”. Tema ini berangkat dari proses dialog bersama Franziska Fennert sehubungan dengan pameran tunggal pertamanya ini. Ziska (24), demikian ia dipanggil rekan-rekannya, memang pribadi yang menaruh minat pada budaya tradisi. Khususnya pada khazanah mitologi dalam tradisi budaya Jawa, Cina dan India. Ia sengaja belajar mengenal tiga ranah tradisi, yang baginya memiliki nilai spiritual dan bentuk-bentuk simbolik yang khas. Ia berupaya mengenal orang-orang, belajar berbahasa, mengikuti beberapa upacara, hingga bagaimana ia mempelajari teknik tradisional dalam penciptaan karya. Dan tanpa sadar, minatnya mengeksplorasi nilai-nilai religi nampak pada bahasa, teknik dan cara ungkap rupa karyanya: pada lukisan, gambar dan objek figurnya.

Religi, Logos, dan Mitos

Perupa muda yang lahir di kota Rostock, Jerman, ini memilih untuk meneruskan belajar di Jogja ini bukan tanpa alasan. Ia seperti menemukan suasana yang cocok disini. Seperti yang ia katakan, kehidupan di Jogja memiliki berbagai bentuk mitos hidup yang hidup dalam kehidupan kontemporer Jogja. Ketika manusia modern memahami realitas berdasarkan logos (rasio), religi hadir memberi pedoman (teks rohani) menuju kehidupan lanjut, kemudian mitos menjadi jalan untuk memahami kenyataan dengan caranya yang simbolik dan sederhana.Di Jawa, antara logos dan religi berkelindan secara serentak dalam berbagai rupa mitos. Dan kerap bertukar tempat dalam menjelaskan kenyataan. Kita tentu ingat bagaimana saat terjadi peristiwa gempa bumi Jogja memicu berbagai penafsiran dari dua arah pandang, yaitu dari perspektif rasio dan religi. Bila BMG (Badan Metereologi dan Geofisika) menjelaskannya dengan gambar-gambar grafis komputer, mitos mewartakannya dengan tanda-tanda simbolik, misalnya seperti fenomena adanya garis awan yang melintang dilangit: pertanda bencana akan tiba.

Religi memberi pandangan etika dan moralitas yang diterangkan dengan simbol yang kontras dan tegas. Yang jahat digambarkan seram, yang baik dicerminkan dengan bentuk sebaliknya. Penggambaran atas dunia terbagi dua. Dunia atas adalah yang harmoni, damai, dan tenang, sedang dunia bawah adalah kecarut-marutan. Disini, mitos bekerja dan menjadi bahasa penting bagi masyarakat tradisi untuk menerangkan berbagai hal itu, sekaligus menjadi pedoman atas tindakan sehari-hari dalam melakukan renungan dan mengambil berbagai keputusan praktis. Perihal mitos ini sengaja dibicarakan, oleh karena karya-karya Ziska sedikit banyak merisalahkan tindakan sehari-hari dalam masyarakat tradisi. Umumnya, ia menggambarkan situasi sehari-hari dan terkadang memvisualisasi mitologi Jawa, kemudian Cina.

Mengalami Tradisi yang Lain

Dalam keseharian Ziska di Jogja, ia tidak menggunakan kendaran bermotor, kemana-kemana ia jenak naik sepeda ontel. Seorang “bule” yang kontras dengan kebanyakan perempuan Jawa modern yang kini kerap menaiki motor. Kadang ia berdandan dengan corak batik. Kemudian, sikapnya yang begitu “njawani”, seperti caranya membalas pesan singkat elektronik (sms) dengan bahasa Jawa Kromo. Itu seperti sebuah upaya Ziska untuk masuk dan terlibat dalam pengalaman beridentitas dan menjalani ritus sehari-hari budaya Jawa.

Ia jarang menggunakan bahasa Inggris. Ia memilih berbahasa Jawa atau Indonesia. Yang menarik, ia seperti menikmati dalam memerankan “identitas baru” dirinya dalam tatanan masyarakat di Jawa. Dan inilah yang memang yang menjadi pernyataannya: “staying in my close environment as a rich source”. Studio tempat ia berkarya juga terletak di jantung perkampungan Jogja selatan. Di sebuah rumah yang sederhana dengan bilik tempat ia bisa menuntaskan karya-karyanya. Seperti kebanyakan perupa di Jogja. Studio merupakan rumah produksi. Studionya berhimpit dengan rumah-rumah tetangga. Disana ia merasa bisa lebih mengakrabi suasana sehari-hari. Tepat didepan studionya sering terlihat sekelompok anak yang mencari ikan di selokan depan. Kadang seorang ibu yang sedang menggendong dan menyusui anaknya lewat dan menyapa Ziska. Dibelakang selokan depan itu terhampar sawah yang kontras dengan latar bangunan rumah berdinding beton.

Dalam suasana itu, tidak ada jarak. Pintu-pintu rumah kampung selalu terbuka dan siap melihat dan menyapa hilir mudik orang yang lewat. Antara masjid, rumah, warung, gardu, serambi sekolah, tidak dipisah oleh jarak panjang, rata-rata berhimpitan. Rumah perkampungan di Jawa ini seperti memiliki hubungan imajiner satu rumah dengan rumah lain, sebuah rukun tetangga dan warga Jawa yang mendasari diri pada prinsip harmoni.

Memberi Ruang Kehadiran Subjek dan Benda

Kehidupan Jawa diperkampungan inilah yang Ziska nikmati. Praktik kurasi ini melihat bagaimana laki-laki Jawa direpresentasikan dalam posisi sentral sebagai subjek matter karya-karyanya. Ini berbeda misalnya, ketika Ziska menggambarkan tradisi budaya cina, disana sebaliknya, justru perempuan yang menjadi ikon utama. Penggambaran ini bagi saya merupakan bentuk nir-sadar Ziska dalam mengenali struktur masyarakat Jawa, dimana laki-laki begitu mendapat perhatian dan tempat simbolis dalam tatanan. Saya kira ini poin menarik, bagaimana Ziska sebagai perempuan barat memandang representasi dominan laki-laki dalam budaya Jawa.

Proses kurasi ini antara lain juga membicarakan perihal ruang. Saya tertarik pada cara Ziska menempatkan berbagai figur dan benda-benda itu dalam ruang. Bagaimana Ia menata dan membuat harmoni antar figur dan benda-benda itu. Figur dominan laki-laki itu umumnya berlangsung dalam pose “leyeh-leyeh”, suatu sikap tubuh yang dalam masyarakat Jawa diartikan santai. Leyeh-leyeh ini menjadi ritus yang lebih personal, suatu aksi sehari-hari yang menempatkan tubuh senyaman dan seenak mungkin. Berbeda dengan “Njagong” yang masih dalam suasana-suasana santai, namun melibatkan lebih dari satu orang dan hadir dalam suatu kegiatan resmi. Misalnya, dalam ritus pernikahan dan bertandang ke tetangga.

Kemudian, perihal pola segitiga dalam karya Ziska seperti mengesankan adanya struktur dalam karya-karya Ziska. Seorang perupa Jogja, Pak Basuki, begitu Ziska menyebutnya, adalah guru seni rupa pertama Sizka kala ia belajar di PPPG Kesenian Yogyakarta. Pak Basuki memberi komentar, bahwa karya-karya Ziska pada umumnya menampakkan struktur segitiga. Struktur ini merupakan struktur garis yang bagi kaum spiritualis menandakan sebuah simbol rohani. Kita tentu ingat bagaimana segitiga gestur semedi Sidharta Gautama, segitiga bangunan piramid di Mesir, dan sejumlah tempat olah rohani umumnya merepesentasikan struktur dasar ini, dimana pucuk atas segitiga merupakan titik tertinggi. Pembicaraan mengenai struktur dominan dalam karya-karya Ziska ini setidaknya bisa menjadi jalan untuk melihat apa yang tak tampak, tapi terlihat dalam karya-karya Ziska ini. Yaitu ikonografi bapak, ibu dan anak. Ikonografi ini memberi tanda, bahwa Ziska begitu menaruh perhatian pada keluarga.

Dalam keluarga, sebagai unit sosial kecil dalam struktur masyarakat berlangsung proses penerapan nilai-nilai budaya dalam masyarakatnya. Dalam keluarga, nilai-nilai itu dibatinkan dan dipraktikkan. Saya kira, disitu Ziska tertarik untuk melihat bagaimana pandangan-pandangan hidup masyarakat tradisi membatinkan dan mempraktikkan hidup yang tercermin melalui ritus sehari-hari.

Kemudian, selebihnya Ziska mengisi ruang demi ruang itu dengan berbagai bentuk atau kongkritnya benda-benda yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana benda-benda itu digunakan dan difungsikan dalam relasi antar subjek-subjek disitu. Juga bagaimana sejumlah figur-figur itu selalu diberi jangkar ruang. Di dalam ruang itu terdapat sejumlah objek. Rupa objek itu bukan dalam wujud furnitur modern tetapi dalam bentuk-bentuknya yang tradisional.

Dalam masyarakat Jawa, perihal ruang tidak lepas dari praktik penandaan. Ruang tengah menjadi area sentral. Tempat bertemu sang bapak dengan keluarga. Ruang tengah juga sekaligus ruang formal dan tempat menerima tamu keluarga. Di tempat ini pula, segala permasalahan diharapkan selesai. Berbeda dengan ruang istirahat, yaitu kamar tidur sebagai ruang paling intim, dan tak sembarang orang bisa masuk. Karena bila tamu masuk kesitu, dianggap tidak etis. Dan dapur, yang dianggap ruang bagi perempuan, dan disana tempat mengakses wicara yang tak perlu terikat dengan formalitas. Ini berbeda dengan tata ruang di barat, dimana umumnya dapur justru menjadi tempat menerima tamu dalam suasana yang santai.

Ziska seperti asik dalam mengisi ruang-ruang ini. Seumpama bingkai bidang karya itu adalah lensa kamera. Maka karya Ziska seperti sebuah potret-potret kejadian sehari-hari. Sebab itu, karya-karya Ziska dalam pengertian lain, tidak lain adalah catatan-catatan hariannya.

Estetisasi Media

Pada wawancara yang berlangsung, Ziska menuturkan berulang-kali bahwa karyanya hadir dengan semangat spontanitas. Mengalir begitu saja. Lebih mengedepankan sensasi gerak tangan. Dari situ ia membiarkan sapuan kuasnya mengisi bidang kanvas secara lepas. Pada warna-warna yang ia anggap perlu diberi porsi penuh atau secukupnya. Sensasi gerak ini diinspirasi ketika Ziska mempelajari teknik lukis pada seorang guru seni rupa Cina. Nafas menjadi penting. Tidak terburu-buru. Namun penuh ritme dan daya kontrol. Ia merasa tengah mengaliri bidang karyanya dengan enerji. Proses seperti ini seperti mengingatkan kita pada sebuah laku spiritual. Dan memang Ziska mengakui, ia menggabung aspek teknik dan laku ini.

Hasilnya, seperti yang kita lihat: pertama, umumnya anotomi tubuh dalam lukisan-lukisan Ziska yang tampak meditatif, seperti terlihat pada, “Meditasi” (Acrylic on Canvas, 2008), “Pribadi Budha” (Acrylic on Canvas, 2008). Penciutan dan pembesaran figur-figur menghadirkan kesan dramatik. Kedua, lihat pula, warna-warna yang cenderung monokrom, dan terkadang glamour. Warna yang ia pilih disesuaikan dengan karakter figur, latar belakang, dan objek-objek. Ketiga, karakter garis yang menjadi modal kehadiran semua figur, latar belakang, dan objek. Garis-garis pada karya Ziska menjadi sebuah citra artistik. Sebab lewat garis-garis itu ia memberikan ekspresi dasar pada karya-karyanya. Keempat, manakala figur-figur itu berpindah ke bentuk trimatra memberikan kesan nyata pada “Kelurga Paijo” (Objek, 2008).

Dalam membuat figur ini, ia menggunakan kain kanvas, kapas, dan torehan cat dalam membentuk figur-fugur trimatra ini. Perpindahan dari subjek dua dimensi menuju tiga dimensi ini memang sengaja mendorong agar subjek komposisi figur hadir dengan volume penuh dimana ruang pamer galeri menjadi sebagai bingkai tersendiri.

Rupa-rupa Upacara

Kuratorial “Everything is Rites” ini berangkat dari kecenderungan pengulangan-pengulangan subject matter pada karya Ziska. Subject matter yang menunjukkan perisitwa-peristiwa sehari-hari, kita antara lain bisa kita lihat pada: “Bercerita Nasi (tinta di atas kertas, 2007), “Bikin Selendang” (Acrylic on Canvas, 2008), “Angkringan” (Acrylic on Canvas, 2008). Khususnya apa yang ia lihat pada kesehari-harian masyarakat Jawa, khususnya di Jogja. Namun, pengulangan ini tidak mesti dengan cara menuang kembali apa yang Ziska lihat, akan tetapi ia menghadirkan pula peristiwa-peristiwa imajiner, membangun narasi di atas narasi (mitos tersendiri). Hal pokok yang ingin dihadirkan oleh Ziska adalah bagaimana seri-seri peristiwa menjadi serangkaian cerita yang mengalir dalam dua lapis realitas: dunia nyata (read world) dan dunia imajiner (mitos), seperti tampak pada “Tari Hutan” (Mixed Media, 2007).

Tema pameran ini memang bernada provokatif. Dan tidak berlebihan memang, oleh sebab baik religi dan logos sebagai sistem pengetahuan hadir dengan mitos-mitos nya sendiri. Mitos tidak selalu pada hal yang dimiliki oleh tatanan masyarakat tradisi, akan tetapi mitos kini diproduksi oleh budaya modern. Kedua-keduanya menggunakan simbol agar mudah dicerna, cepat ditangkap dan diterima. Tidak hanya simbol, mitos sebagai sistem pengetahuan juga hadir melalui praktik. Dari bentuknya yang dianggap memusat dan khusus, hingga yang melebar dan sehari-hari. Disini Ziska memberi arti pada pentingnya kehidupan sehari-hari. Bahwa tindakan yang memusat dan yang melebar merupakan rangkaian ritus !

Manusia perlu dan menciptakan upacara-upacara. Karya-karya Ziska ini bagi saya menjadi momen pertamanya dalam menghadirkan rupa-rupa upacara itu. Sebuah catatan hariannya yang bersumber pada pengalamannya melihat dan terlibat dengan berbagai budaya. Khususnya dalam pameran ini, ia banyak menaruh perhatian pada budaya Jawa dan Cina. Tentu kita patut menunggu catatan penjelajahan dan permenungan Ziska berikutnya.

Everything is Rites ! Ketika kini semuanya adalah upacara-upacara.

(Tulisan ini dipublikasikan dalam katalog pameran)

Yogyakarta, 20 April 2008

Advertisements

About this entry